BANJIR, BENCANA YANG BERULANG TANPA PEMBELAJARAN

Banjarbaru, 8 April 2013. Wahana Lingkungan Hidup Kalimantan Selatan kembali menyoroti berita baik di media cetak maupun media elektronik prihal berita mengenai banjir yang melanda sebagian wilayah Kalimantan Selatan sejak Minggu (7/4) malam hingga Senin (8/4).Banjir yang melanda di wilayah Kalimantan selatan ini meliputi beberapa kabupaten antara lain, kabupaten banjar Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan Kabupaten Balangan yang diakibatkan hujan yang turun satu hari penuh.Sejak beberapa tahun terakhir banjir memang menjadi langganan tahunan yang selalu melanda kabupaten-kabupaten tersebut pada saat musim hujan.

Banjir yang terjadi kali ini paling parah sejak tiga tahun terakhir karena ketinggian air mencapai hampir 30 sentimeter merendam kawasan perumahan, perkantoran, sekolah dan hampir semua ruas jalan utama. Pemerintah baik provinsi maupun kabupaten seharus nya punya andil maksimal dalam pelayanan masyarakat untuk pemenuhan hak-hak korban bencana banjir seperti di sediakannya tempat pengungsian yang layak, logistik bahan makanan serta ketersediaan air bersih yang cukup.

Potret buram ini tidak harus dirisaukan, apabila kapasitas masyarakat melebihi ancaman. Resiko bencana menjadi kecil seiring meningkatnya kapasitas masyarakat terhadap bencana. Sebaliknya bencana membawa keraguan publik bila kapasitas dirinya sangat rendah dibanding dengan timbulnya ancaman. Ini dibutuhkan penanggulangan bencana yang inheren dan koheren dengan berbasis pada analisis asset penghidupan; manusia, alam, fisik, sosial dan finansial. Apakah kelima aset penghidupan ini sungguh dipersiapkan untuk menghadapi kondisi kedaruratan.

Dwitho Frasetiandy, Direktur Eksekutif WALHI Kalsel mengatakan “Paradigma penanggulangan bencana yang bernuansa tanggap darurat mestinya diubah menjadi Pengurangan Resiko Bencana. Berarti upaya pengurangan resiko bencana lebih di utamakan dibanding dari upaya penanggulangan bencana. Begitupun dalam konteks kebencanaan, masyarakat semestinya dipersiapkan secara dini dipersiapkan sebelum datangnya bencana.”

Dalam melihat sebab terjadinya banjir tersebut maka dapat kita lihat bahwa terjadinya banjir bukan semata-mata proses alamiah yang datang disaat musim hujan karena intensitas curah hujan yang tinggi saja, melainkan banjir juga terjadi akibat kerusakan hutan Pegunugan Meratus di beberapa Kabupaten Kalimantan Selatan dikarenakan banyaknya pembukaan lahan dan hutan oleh perusahaan pertambangan dan perkebunan sawit skala besar, yang mengakibatkan alam tidak mampu menahan air hujan. Pemerintah bertanggungjawab sebagai pembuat kebijakan dalam pengelolaan pemanfaatan sumber daya alam di Kalimantan Selatan.Maraknya penerbitan ijin tambang dan pembukaan lahan sawit yang ada menjadi penyebab utama bencana banjir yang terus menerus terjadi setiap tahunnya di Kabupaten-kabupaten yang ada di Kalimantan Selatan. Secara tidak langsung banjir merupakan dampak struktural atas kebijakan pembangunan yang tidak berkelanjutan.

 

Kontak Media:

Dwitho Frasetiandy (Direktur Eksekutif WALHI Kalsel)

0856 1831 939

Foto Sumber : radarbanjarmasin.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.