Pemanfaatan Ruang dan Biodiversity Oleh Masyarakat Adat

Pengetahuan Pemanfaatan Ruang dan Biodiversity Masyarakat Adat  Haratai
Menjaga Daya Dukung Alam bagi Kehidupan

Tentang Ruang Hidupharatai
Sistem pemanfatan ruang hidup masyarakat dayak Meratus di desa Haratai pada prinsipnya di bagi menjadi 2 bagian yaitu : kawasan produksi dan budidaya seperti ladang, pemukiman dan kampung buah dan kawasan perlindungan seperti Kayuan, kawasan keramat dan pekuburun.  Kayuan merupakan kawasan hutan yang di jaga kesimbangnnya, sehingga pemanfatan kayu sangat terbatas.  Pemanfaatan kayu hanya diperbolehkan untuk kebutuhan membuat rumah dan Balai adat, tidak diperbolehkan untuk di jual. Luas kawasan desa Haratai adalah 6.887.000 hektar, dengan sekitar 60 persen lebih adalah kawasan kayuan.  Aktivitas di dalam kayuan dan pemanfaatan sumber daya hutannya selalu di awasi dengan aturan adat yang berlalku. Aktivitas berburu dan pengambilan sumber daya hutan di wilayah kayuan dibolehkan dengan batasan tertentu dan seperlunya, sehigga sumber daya hutan yang ada tetap terjaga keberadaannya.  Untuk menebang kayu, baru dapat dilakukan setelah mendapat ijin dari kepala adat (pangulu Balai atau Tuha Balai dalam bahasa lokal.) dan diawasi pengguaanya hanya untuk kebutuhan subsinten, bukan untuk kebutuhan komersial.

Pengetahuan tentang sumber daya genetik :
Masyaraka di Haratai menggunakan sumber daya hutan untuk berbagai kebutuhan seperti bahan bangunan, pangan, tanaman obat dan penunjang kehidupan yang lain.  Ada sumber potensi ekonomi setidaknya ada 62 jenis tanaman antara lain Kayu manis, sintuk, jengkol. Kumut sungkai, karet, ambu tali, kayu masam damar, angih, minggatah, huyi (rotan), tantali, talaran, labu dan karawila. sebagai sumber makanan setidaknya ada 89 jenis tanaman antara lain : labu, tembakau gunung, karawila, gudai (kacang kacangan), hubi (sejenis ubi), kundur, kaladi, kunyit, serai, kucai, enau, jintan, mentimun,, tebu, jengkol, kumut, rebung dan mingkumbang.  Sebagai sumber bahan bangunan setidaknya ada 64 jenis tanaman antara lain : kumut, karet, sungkai, kayu masam, kalindayau, birik, tirik, dammar, angih jalit, singsilin, basapat, pangkulan, kalinduyan dan beberapa jenis bamboo seperti betung dan haur.  Sebagai sumber penunjang kegiatan rumah tangga setidaknya ada 42 jenis tanaman antara lain : karet, bambu tali, kayu masam, kalindayau, birik, tirik, Palawan, ruhut, miwai dan rotan. Sebagai sumber kerajinan ada 25 jenis tanaman potensial seperti : kumut, bamboo tali, tirik, Palawan, 4 jenis rotan (lilin, baras, wariyung, rotan biasa), tawing.   Sebagai pendukung upacara adat di sediakan setidaknya 9 jenis tanaman seperti : pangkulan, kambang babau, enau, haur kuning, kemangi, buluh ( bamboo tipis), kelapa dan bamboo tali.  Untuk obat obatan tanaman yang digunakan antaa lain : akar kuning, akar kikiput, akar pikajar, butuh ulin, akar pisang, akar bamboo tali, kalindayau, akar carikan, ulur ulur (penawar sampai), sintuk, akar gitaan dan akar kayu masam,  Semuanya bersumber dari 41 jenis akar, 36 jenis daun, 82 jenis batang, 5 jenis getah, 11 jenis kulit dan 72  jenis buah.
Dengan system ruang dan pemanfaatan sumber daya ruang yang mereka miliki dapat mendukung kehdupan dengan baik dengan tidak mengektraksi sumber daya ruang hidupnya sampai habis.  Sayangnya system ini, tidak menjadi referensi konservasi di negeri ini, yang cenderung ekofasis dengan proteksi absolut.  Entahlah nanti…

Leave a Reply

Your email address will not be published.