“Bara di Bongkahan Batu” Sebuah Film Praktik Buruk Pertambangan

BANJARBARU – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel meluncurkan film dokumenter dan investigas tentang prilaku buruk pertambangan batubara, Kamis (25/5) di Banjarbaru. Film yang merupakan hasil riset mendalam tentang pertambangan batubara itu diberi judul ‘Bara di Bongkahan Batu’. Judul itu, ujar Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Kisworo DC, menggambarkan banyaknya persoalan yang muncul di Kalsel akibat adanya pertambangan batubara. “Bara masalah itu selalu saja memakan korban masyarakat kecil dan lemah. Sementara kebijakan pemerintah, baik di tingkat lokal maupun nasional, seolah membiarkan bara masalah sebagai buah pertambangan batu bara itu terus berlangsung,” ujar Kisworo.

Film berdurasi sekitar satu jam itu, berkisah tentang nasib masyarakat di berbagai daerah di Kalsel yang harus kehilangan tanah, rumah, dan sumber penghidupan, akibat praktik buruk pertambangan batu bara. “Film ini menjadi semacam pengingat bagi para pengambil kebijakan di tingkat manapun untuk berhenti memihak perusahaan pertambangan. Tapi di daerah masing-masing mereka harusnya memilih melindungi rakyatnya,” ujar Kisworo.

Ditambahkan Manajer Kampanye dan Data Walhi Kalsel, Rizqi Hidayat, pembuatan film ‘Bara di Bongkahan Batu’ dilakukan Walhi Kalsel dengan titik berat pada nasib korban. “Korban yang jatuh sudah banyak. Tak ada salahnya, para pengambil kebijakan menyelamatkan para korban.”

Menurut Kisworo, film ini juga memberikan gambaran yang jelas, betapa energi batu bara selalu menelan korban. “Jadi korban akibat pertambangan batu bara ini tak hanya orang. Tapi juga lingkungan. Sudah saatnya pemerintah tak lagi memberi peluang dan menggunakan energi tak terbarukan seperti batu bara ini dalam kebijakan energinya. Mudharatnya lebih banyak dari manfaatnya.”

Film ‘Bara di Bongkahan Batu’ ini selain menyoroti kabupaten yang telah rusak akibat pertambangan batu bara, juga menggambarkan masih adanya harapan. Terutama harapan yang ada di Pegunungan Meratus. “Penolakan pemerintah lokal dan masyarakat Meratus lah yang turut bisa menyelamatkan Banua. Kalau di luar Meratus, Banua ini sudah berantakan,” ujar Rizqi Hidayat.

Peluncuran film yang bertepatan dengan momentum Hari Anti Tambang (HATAM) ini akan dilanjutkan dengan roadshow diskusi dan bedah film di berbagai kampus, sekolah, organisasi masyarakat, komunitas seniman dan budayawan, dan di kampung-kampung.   Siapa saja yang berminat dipersilahkan menghubungi Walhi Kalsel untuk mengatur jadwalnya.  “Untuk sementara film ini tidak dibagikan sembarangan, kecuali dalam kegiatan diskusi dan bedah film”, ujar Rizqi Hidayat.  Kegiatan ini merupakan salah satu agenda kampanye Walhi Kalsel yang diharapkan mendapatkan dukungan dari masyarakat luas.

Narahubung
Kisworo Dwi Cahyono : 0813 4647 0077
Rizqi Hidayat: 0822 5510 8929

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *